Review Buku Yang Berjudul Sumur – Buku ini diawali dengan kisah romantis khas yang sering kita lihat di TV atau surat-surat romantis. Dua anak, teman dekat, saling menyukai. Tragedi antara orang tua memisahkan hubungan. Di desa Toyib dan Siti, sumber air merupakan pusat kehidupan masyarakat. Mata pencaharian mereka bergantung pada sumber air ini. Tahun demi tahun berlalu, sumber air itu menjadi sumur. Sumur yang menjadi tumpuan kehidupan juga menjadi sumber penderitaan Toib dan Siti.

Review Buku Yang Berjudul Sumur

 Baca Juga : 10 Buku Baru Yang Menarik Dari Penulis Pendatang Baru

Konflik air.

bookcafe – Untuk yang hidup di dusun, pasti bersahabat dengan insiden beradu untuk menjaga sedikit air buat membanjiri tumbuhan. Pertemanan Toyib serta Siti putus bersamaan dengan tebasan ajal yang merenggut nyawa papa Siti. Bertahun- tahun memendam perasaan, hingga datang terdapat waktunya peluang buat Toyib berdialog kembali dengan Siti, yang selesai dengan perginya Siti meninggalkan dusun. Untuk mengembalikan antusias hidup Toyib, bapaknya mengajak Toyib berkelana yang pula mejadi kejadian, lagi- lagi mengaitkan air serta anomali alam yang tidak sempat mereka temui.

Seakan mau membuat cerita 2 sepasang ini meningkat murung, Siti yang berkelana ke kota juga tidak menciptakan keceriaan, walaupun kesimpulannya cair serta menikah dengan seseorang supir. Siti kesimpulannya kembali ke dusun, berjumpa dengan Toyib yang pula sudah menikah. Sumber kembali jadi saksi pertemanan, pusat kehidupan, serta kesimpulannya kembali jadi pangkal kesedihan untuk Toyib serta Siti.

Narasi” Sumber” tadinya sudah keluar dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets: Stories Of Climate Change And Inequality In A Divided World dengan kepala karangan The Well. Antologi ini diterbitkan oleh Penguin Books pada 2020. Novel Sumber ini cuma pipih sekali, wujudnya pula kecil dengan graf yang relatif besar. Novel ini dimasukkan ke dalam sejenis pembungkus surat dengan coretan yang serupa semacam bukunya. Sejenak nampak cuma semacam ajakan ekslusif.

Aku bukan penggemar Eka Kurniawan. Aku membaca sebagian karangannya namun, style berbahasanya bukan tipe yang dapat aku nikmati. Novel” Sumber” ini lumayan marak diperbincangkan di Twitter penggemar literasi, yang membuat aku kesimpulannya FOMO, terlebih sebab terdapatnya memo dari pencetak kalau novel ini cuma hendak dicetak sekali. Anehnya, novel sumber ini amat enteng bahasanya. Berlainan sekali dengan bukunya yang lain yang penuh dengan bahasa akurat serta sering- kali melukiskan kekerasan yang cabul.” Sumber” membuat aku kembali menilai evaluasi aku pada karya- karya Eka Kurniawan.

 Baca Juga : Coventry Dan Trick Mirror Buku Karangan Terbaik Yang Ditulis 

Dari novel sumber ini kita dapat memandang kalau kehidupan sosial warga dapat jadi amat berganti oleh terdapatnya pergantian alam. Melalui cerita Siti serta Toyib, Eka Kurniawan dapat melukiskan dampak dari kekeringan, banjir, hawa yang berganti amat pengaruhi kehidupan warga. Warga orang tani serta gembala yang menyudahi jadi daya agresif di kota sebab tidak lagi mempunyai pangkal nafkah di dusun.

Sumber bukan cuma mengenai Siti serta Toyib. Sumber merupakan cerminan cerita para orang tani kita. Kerap sekali kita mengikuti informasi kekeringan, kandas panen, gersang berkelanjutan, serta ayah bercocok tanam berebut air di kebun. Melalui Sumber, insiden itu tidak lagi jadi hanya kepala karangan di surat kabar. Sumber membuat kita dapat memikirkan dampak dari seluruh insiden itu pada keluarga serta warga lain terdampak. Sangat abnormal, gimana novel sekecil serta narasi simpel ini membagikan cerminan hal beratnya akibat pergantian hawa melampaui ceramah ataupun kampanye yang kerap melintas di bermacam alat massa.

Share this:

Review Buku Yang Berjudul Sumur