Review Buku Menggugat Freeport: Satu Jalan Penyelesaian Konflik – Buku berjudul “Menuntut Freeport dengan Resolusi Konflik” ini terbagi dalam 10 bab. Buku ini ditulis oleh Markus Haluk. Markus Haluk adalah tokoh muda yang sudah lama prihatin dengan pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh Freport. Edisi pertama dicetak oleh Penerbit Deiyai ​​pada tahun 2014. Panjangnya 125 halaman dan ISBN 978-602-03-17071-59.

Review Buku Menggugat Freeport

 Baca Juga : Tips Membuat Review Buku Agar Tampil Maksimal 

bookcafe – Bagian pertama disertai pengantar oleh Hans Magal, pemilik hak ulayat Nemangkawi yang menjelaskan bahwa Gunung Nemangkawi dalam peradaban suku Amungme merupakan simbol kehidupan yang sangat sakral. Simbol sakral ini membentuk identitas, harga diri, semangat dan inspirasi hidup dalam kehidupan marga Amungme, pemilik dan penduduk sekitar Nemangkawi. Gunung Nemangkawi telah diwariskan secara turun-temurun dan selalu menjadi sumber inspirasi dan ilmu pengetahuan, terutama dalam proses pembentukan masyarakat Amungme yang sesungguhnya.

Orang Amungme tidak diwariskan angka serta norma adat buat mengucilkan, memalsukan serta mengecilkan orang lain ataupun ahli lain dalam melaporkan kepemilikan hak hidup serta hak atas kepemilikan batas – batasnya area hidupnya. Prinsip hidup itu diwariskan dari angkatan ke angkatan hingga dikala ini.

Biarpun besarnya arus serta adat luar yang masuk diwilayah hidup orang Amungme tetapi adat terkini itu dan merta bisa menghilangkan angka serta norma yang sudah terdapat turun temurun.

Pada faktanya terus menjadi nampak pengkotak- kotakan serta pengelompokan area hidup atas hak ulayat atau kepemilikan Nemangkawi pula membuktikan kerenggangan dalam dampingi ahli disekitar Nemangkawi. Seluruh situasi ini ialah karena dampak dari satu angka serta norma terkini yang terjalin dampak kebutuhan sedetik.

Freeport Indonesia lagi menggali tembaga yang memiliki endapan ketiga terbanyak di bumi, sebaliknya buat kencana menaiki antrean awal serta diprediksi dilokasi yang serupa pula ada endapan uranium selaku materi tenaga nuklir, yang biayanya pasti berulang kali bekuk lebih mahal dari pada tembaga serta kencana.

Pertanyaannya apa yang didapatkan oleh pemilik Ulayat selama ini?

Amatan Imparsial menciptakan kalau perkara pertambangan tembaga oleh Freeport Indonesia memanen permasalahan dalam kaitannya dengan perebutan tanah ulayat kepunyaan kaum Amungme yang bercokol disekitar area pertambangan ditambah lagi keikutsertaan tentara Indonesia dalam melaksanakan kontrol kepada posisi pertambangan Freeport. Akhirnya kaum Amungme meninggalkan tanah leluhurnya di gunung yang dipahami Freeport serta setelah itu alih ke Aria, Waa, Tsonga serta Norma sebab bermacam kesalahan yang dicoba oleh Freeport Indonesia.

Dalam Novel Menggugat Freeport Sesuatu Jalur Penanganan Bentrokan, ayat awal Menguraikan Mengenai Freeport Dari Titik Nihil. Dibagian dini novel ini Pengarang mengambarkan kekayaan alam Papua sudah mengundang atensi banyak orang dibelahan Eropa. Pada tahun 1760- an pemanfaatan dicoba, walaupun hingga temuan- temuan barang- barang abnormal serta sangat jarang.

Jauh tadinya pada 1623, Jan Cartensz melaut di sejauh pantai tenggara kepulauan Papua. Jan Cartensz jadi orang awal yang memandang pucuk gunung paling tinggi yang di tutupi salju bernama Cartensz, setelah itu diabadikan buat julukan gunung itu, yang saat ini diketahui dengan julukan orang Papua dalam bahasa Amungkal, Nemangkawi.

Pada tahun 1936, suatu golongan penjelajahan melaksanakan ekspedisi ke pegunungan Cartensz, terdiri dari Anton Hendrik Colijin, Frigat Julius Wissel serta Jean Jacques Dozy. Ketiga orang itu menaiki serta sukses menggapai pucuk Cartenz. Penjelajahan ini diketahui dengan julukan penjelajahan Colijin, yang setelah itu jadi memo berarti untuk penjelajahan golongan yang lain yang mempelajari pangkal kekayaan alam Papua.

Pada Tahun 1967 setelah Forbes Wilson menciptakan isi kencana di Nemangkawi ataupun sebagian durasi sehabis Suharto dilantik selaku Kepala negara pada 7 April 1967, pemanfaatan diawali. Suharto membagikan sertifikat ke industri tambang Amerika sindikat, Freeport Sulplur, saat ini Freeport McMoRan, buat menggali di pegunungan Hertzbeeg di kabupaten Fakfak, Irian Barat. Saat ini posisi itu beberapa besar masuk zona izin Freeport di Timika.

Masuknya Freeport Sulphur ke Papua dibantu dengan lahirnya UU No 1 Tahun 1967 mengenai penanaman modal asing, yang disahkan pada 10 Januar 1967.

UU Penanaman Modal Asing itu diatas didesain semenjak dini dengan mengaitkan pihak asing dalam formulasi, kategorisasi, serta membenarkan ayat untuk ayat sampai cara pengesahan UU itu. Perihal itu dikenal industri konsultan Amerika Van Sickle Asociates, yang berkantor pusat di Denver, menolong para administratur sistem terkini kategorisasi modul UU PMA semenjak 1966.

Freeport serta Penanam modal Asing memandang Soeharto yang kontra kapitalis serta antikolonialis itu selaku batu ganjalan besar buat mengeruk kekayaan di Irian Barat. Tumbangnya Soeharto selaku momentum yang ditunggu menunggu.

Setelah Soekarno dituntut memberikan kewenangan pada Soeharto pada 12 Maret 1967, satu bulan setelah itu UU PMA disahkan serta pada 7 April 1967, serta Penguasa RI memaraf kontrak buatan awal, lebih dini 2 tahun dari Determinasi Opini Orang( PEPERA) 1969. Perihal ini terdapat kaitannya dengan lobi- lobi Elsworkth Bunker yang menganjurkan New York Agreement 1962 serta Time Agreement 1969. Dibagian dini ayat awal Pengarang melukiskan dengan cara utuh di novel itu.

Berikutnya di ayat kedua Pengarang melukiskan kejadian manusiawi di zona Freeport. Dibagian kedua ini pula Pengarang membagikan cerminan kalau tiap upaya ataupun bidang usaha terpaut keamanan kegiatan merupakan aspek yang amat vital. Kehadiran PT Freeport Indonesia lupa dalam sebagian peristiwa keamanan pegawai di zona Freeport.

Sebaliknya dibagian bagian ketiga Pengarang membagikan cerminan mengenai anggaran satu persen. PT. Freeport Indonesia mengucurkan anggaran satu persen buat kaum Amungme serta Komoro dan 5 kaum yang lain dikawasan areal tambang di Kabupaten Mimika. Merujuk sejarahnya, anggaran satu persen lahir dari peperangan banyak orang Amungme serta suku- suku saudara yang lain yang melaksanakan perlawanan kepada Freeport.

Tetapi dalam dalam perjalanannya anggaran satu persen ini jadi pangkal bentrokan yang hebat serta jauh. Semenjak pembedahan hingga dengan 1996 kemudian terjawab anggaran satu persen, belum lagi perkara pembedaan presentase penjatahan anggaran itu. Pembedaan lain yang dirasakan oleh warga Owner Ulayat yang lain merupakan pendapatan daya kegiatan.

Tidak hanya anggaran satu persen serta pembedaan kepada pendapatan daya kegiatan.

Pada ayat berikutnya Pengarang membagikan cerminan mengenai kontrak buatan yang dicoba dibawa ketek antara Penguasa Indonesia serta PT Freeport dengan mempertaruhkan kebutuhan warga owner ulayat semacam yang nampak dalam perundingan penguasa pusat dengan Freeport, partisipasi Freeport untuk Indonesia, perundingan Gubernur Lukas Enembe dengan Freeport.

Di ayat 5 Pengarang pula berikan menarangkan perlawanan orang Papua kepada Freeport. Perlawanan orang Papua kepada Freeport terjalin dampak penandatanganan kontrak buatan awal antara Penguasa RI serta PT. Freeport tanpa sedikitpun persetujuan dengan warga Amungme serta Komoro selaku owner hak atas tanah, hutan, gunung serta air sudah mengundang permasalahan sungguh- sungguh dalam hidup kaum Amungme serta Komoro. Mereka jadi tersendat.

Pada tahun 1967 Freeport serta kontraktornya Bachel Pemeroy dibawah arahan Jhon Curry masuk tanpa memohon persetujuan ke dalam ngarai Waa serta Banti. Memandang kelakuan Freeport beberapa masyarakat ngarai ini, dibawah arahan Tuarek Natkime melaksanakan keluhan. Alasannya, PT Freeport bersama kontraktornya menggusur tumbuhan orang serta mulai membuat helipad serta base- camp dibawah.

Warga Amungme dengan dengan siuman menentang orang asing diwilayah kehidupannya tanpa memohon permisi. Area Peyukate yang investigasi itu bersebelahan dengan Yelsegel serta Ongopsegel, area bertuah kaum Amungme yang bermukim di Ngarai Waa serta Banti.

Perlawanan orang diawali semenjak itu serta Freeport lalu menindas dengan daya Tentara Nasional Indonesia(TNI) serta Polri, berikutnya kekerasan untuk kekerasan lalu terjalin di areal Freeport semenjak pembedahan hingga dikala ini. Perlawanan untuk perlawanan orang lalu menembus terjalin dengan bermacam metode, tercantum menggugat Freeport di New Orleans AS, Peperangan Angkatan Belia AMPTPI hingga pada Kontrak Buatan awal serta kedua ditaksir tulis hukum serta akhlak.

Ayat 6 melukiskan hancurnya peradaban Amungsa, dimana pada tahun 1973 masyarakat Mimika kurang dari 10. 000 orang, kemudian meningkat jadi 60. 000 orang pada tahun 2021 berjumlah 311. 211. Dari informasi diatas, masyarakat pendatang lebih besar dibanding masyarakat asli Papua. PT. Freeport Indonesia memakai masyarakat pendatang lebih banyak dari pada masyarakat asli Mimika Papua. Kedatangan Freeport membuat runtuhnya peradaban Amungme serta Komoro di alam Amungsa.

Berikutnya di ayat 7, Pengarang membagikan cerminan atas kegentingan tapal batasan, dimana penjelajahan awal di Nemangkawi sudah menimbulkan beban jauh. Beban orang Amungme tidak menyambangi henti kala kontrak buatan Freeport bersinambung sepihak oleh Penguasa Pusat serta PT Freeport Indonesia tanpa mengaitkan Owner Ulayat.

Ayat 8, Pengarang dengan cara nyata menguak Januari Agreement, ialah momentum pertemuan 8 Januari 1974, dimana Freeport, Penguasa serta Owner Nemangkawi terkumpul yang diketahui dengan pertemuan segitiga. Penguasa Indonesia diwakili oleh Penguasa Provinsi Irian Berhasil serta Tom Beanal salah satu figur Amungme, menggantikan owner Nemangkawi melahirkan sesuatu akad Januari Agreement, suatu akad yang memastikan ceruk asal usul Bangsa Papua. Sayangnya pada akad itu, menghilangkan warga Amungme, Owner Tanah ditambang Freeport.

Berikutnya di Ayat 9 Pengarang menulis Alfa serta Omega di Meja Negosiasi. Dibagian ini Pengarang dengan cara gamblang menarangkan perbincangan selaku tahap terbaik dalam menuntaskan banyak permasalahan paling utama terpaut dengan permasalahan kepemilikan tanah hak ulayat Nemangkawi. Dengan perbincangan permasalahan dapat dituntaskan lebih bergengsi. Hingga penanganan kepemilikan tanah ulayat yang jadi area pembedahan penambangan dipertemukan dalam meja negosiasi antara Freeport serta kaum Amungme paling utama ahli besar Magal, Natkime, Beanal, Kum, Bugaleng, serta Omaleng.

Inti negosiasi ahli Magal, Natkime, Beanal, Kum, Bugaleng, Omaleng serta owner Nemangkawi dengan Freeport merupakan menggapai perjanjian terkini mengarah kondisi yang lebih bagus alhasil senang tidak senang ingin tidak ingin pemecahan wajib dilahirkan.

Pilihannya merupakan semenjak negosiasi dicoba Kaum Amungme Owner Nemangkawi yang dibantu oleh seberinda orang Papua memberhentikan sedangkan pembedahan tambang sepanjang dalam cara negosiasi dengan terbuat jenjang negosiasi, partisipan negosiasi serta jembatan atas negosiasi.

Ayat 10 ialah bagian akhir bermuatan pengepresan pada 3 perihal; ialah awal owner Nemangkawi merasa orang diluar kaum Amungme sudah mengganggu angka peradaban kaum Amungme paling utama dengan terencana menyangka tidak terdapat orang yang hidup disekitar gunung Nemangkawi. Tidak betul asumsi Freeport kalau tidak terdapat owner Nemangkawi. Orang Amungme merupakan owner legal Nemangkawi.

Kedua, diluar orang Amungme merasa sepanjang ini Freeport sangat membagikan atensi serta sokongan pergantian atas pemakaian tanah tanah kepunyaan kaum Amungme dengan cara sepadan, tetapi kenyataan mengatakan lain.

Seluruh percakapan serta akad jauh dari impian serta orang Amungme hidup dalam garis kekurangan, banyak pengangguran, serta jeleknya sarana biasa.

 Baca Juga : 5 Buku Terlaris di Kalangan Milenial

Ketiga, tidak terdapat tutur telanjur buat berjuang memperoleh kesamarataan. Orang Amungme bertahan diatas berpenyakitan serta pergumulan jauh untuk memperoleh kesamarataan dengan cara bergengsi. Hingga, warga Amungme akur mencari jalur negosiasi. Bersandar bersama serupa dengan para pihak buat menuntaskan bentrokan di tanah ini dengan cara rukun serta terbuka.

Novel Menggugat Freeport Sesuatu Jalur Penanganan Bentrokan ini dapat mendesak negosiasi buat menuntaskan bentrokan tanah ulayat Amungme serta Freeport. Saat ini waktunya bersuatu mencapai tujuan serta angan- angan bersama ialah pengakuan bukti diri harga diri serta kesetaraan hak asas kaum Amungme dimuka alam ini.

Share this:

Review Buku Menggugat Freeport: Satu Jalan Penyelesaian Konflik