Review Buku Berjudul All The Bright Places – Novel ini menceritakan mengenai Theodore Finch, seseorang laki- laki yang terobsesi pada kematian. Belum apa- apa, narasi telah diawali dengan kehadiran Finch di langkan Tower Bel Sekolah. Beliau bernazar buat bunuh diri dengan turun dari situ. Tetapi, perihal itu terhentikan sebab seketika saja beliau memandang bukan cuma dirinya saja yang terletak di situ.

Review Buku Berjudul All The Bright Places

 Baca Juga : Riview Buku Berjudul Cara Berbahagia Tanpa Kepala

Yup, Violet Markey pula berdiri di melintas langkan dengan sepatu bot di tangannya. Tidak tahu memandang kakinya sendiri ataupun tanah di bawahnya. Kemudian, peristiwa sedemikian itu kilat antara siapa yang melindungi siapa. Berita tersebar selanjutnya merupakan Violet, sang bahadur Theodore Finch yang akan melompat dari langkan Tower Bel Sekolah.

bookcafe – Semenjak itu, Finch jadi terpikat dengan Violet. Beliau mencari ketahui, siapa itu Violet. Yang setelah itu beliau dapat data kalau Violet merupakan sang wanita yang aman dari musibah yang membunuh kakaknya, Eleanor Markey.

Kala pelajaran Geografi Amerika berjalan, dimana di kategori itu lah Finch serta Violet terletak di kategori yang serupa, Mr. Black, guru mereka membebankan buat membuat suatu golongan yang terdiri dari 2 orang buat melaksanakan ekspedisi saat sebelum mereka lolos dari sekolah. Sesungguhnya, itu atas ide Finch sih, haha. Tanpa ba- bi- bu, Finch melantamkan julukan Violet Markey buat segerombol dengannya, melaksanakan ekspedisi bersamanya.

Kemudian, gimana keseruan ekspedisi antara Finch serta Violet? Benarkah cuma keseruan yang mereka lewatkan sepanjang hari- hari saat sebelum kelulusan datang? Serta, terdapat apa dengan Finch yang senantiasa sering- kali timbul kemudian detik selanjutnya lenyap?

Ulasan:

Sebab saya telah sempat membaca Novel bertajuk Holding Up The Universe tadinya, tema yang diusung dalam Novel ini sedang serupa, ialah psikologis health issue. Dimana tokohnya yang hadapi tekanan mental sampai amat mau bunuh diri. Kecocokan yang lain dari penyusunan khas Jennifer Niven merupakan pengarang amat gamblang menokohkan kepribadian yang berencana bunuh diri.

Walaupun sedemikian itu, awal mulanya saya amat bimbang dengan Finch. Jika kemauan Violet membutuhkan bunuh diri telah nyata, beliau memiliki era kemudian, dimana beliau merasakan kesedihan yang mendalam yang apalagi dapat diucap beliau hingga guncangan buat menaiki mobil lagi semenjak musibah yang membunuh kakaknya, beliau apalagi hingga menyudahi menulis lagi sehabis itu. Sementara itu beliau memiliki web yang beliau untuk bersama kakaknya. Beliau merupakan jenis orang yang hendak amat mudah dikala menulis, tetapi lagi- lagi semenjak musibah itu keadaan itu jadi tidak beliau jalani kembali. Serta saya selaku pembaca merasa bisa paham alasan- alasan itu.

Sedangkan Finch? Saya apalagi bingung, kenapa? Apa yang menyebabkannya senantiasa mempertimbangkan mengenai kematian? Serta perihal itu terkini pengarang paparkan di medio mengarah akhir narasi.

Saya senang style bahasa pengarang yang enteng, tetapi memiliki insight di dalamnya. Semacam gimana beliau dalam deskripsi pula meningkatkan informasi- informasi kecil, sering- kali terdengar sepele, tetapi berarti sebab berhubungan dengan ceruk narasi yang dibentuk. Ilustrasinya, informasi- informasi simpel hal orang paling tinggi di bumi nyatanya berawal dari Indiana. Kemudian, berapa persen mungkin banyak orang yang mati bunuh diri diakibatkan gantung diri, minum kapsul, ataupun melompat dari ketinggian mempunyai ciri- cirinya tiap- tiap.

Pengarang pula menggambarkan Novel ini dari 2 ujung penglihatan figur yang berlainan. Finch selaku ujung penglihatan pria serta dengan bentrokan hati serta kasus hidupnya. Kemudian, Violet selaku ujung penglihatan wanita pastinya dengan bentrokan hati serta kasus hidupnya. Dikala merambah figur Finch, pengarang mengawali dari peristiwa hari dimana Finch senantiasa terpelihara, sedemikian itu berikutnya sampai beliau kian memahami dekat Violet.

Sedangkan dikala merambah figur Violet, pengarang menorehkan ceruk maju dengan dituliskan sebagian hari mendekati hari kelulusan Violet dari sekolah. Sebab itu lah yang beliau tunggu- tunggu, hingga kesimpulannya beliau memahami Finch.

Nah, yang membuatku terus menjadi menggemari style bahasa dari pengarang ini merupakan diksi terkini yang kutemukan. Sesungguhnya, ini tidak legal buat pengarang Jennifer Niven saja, semacam Novel alih bahasa yang lain yang misalnya ditulis oleh John Green juga saya merasakan perihal yang serupa. Akhirnya, sering- kali dalam membaca novel alih bahasa kita hendak terus menjadi mendapatkan banyak kosa tutur terkini kala membacanya.

Perihal yang lain yang kusukai dari Novel ini merupakan dikala Finch serta Violet silih berkirim catatan di Facebook. Dikala Finch mengambil perkataan yang diucapkan Virginia Woolf. Rasanya seperti dialog itu berkualitas serta terkesan aksi aja. Haha. Sebab di bumi jelas tidak sering amat sangat tak sih, dapat ngobrol nyambung ulasan sungguh- sungguh dengan laki- laki. Haha. Loh, jadi curhat?!

Bertepatan, saya pula jenis orang yang amat senang menorehkan keadaan terkini. Sebab saya suka membuka kepingan KBBI– tepatnya bukan kepingan sebab saya membaca KBBI V tipe digital. Selanjutnya kosa tutur terkini yang kuperoleh dikala membaca All The Bright Places:

Saya pula menggemari gimana pengarang mendefinisikan ekspedisi karyawisata Finch serta Violet ke bermacam wilayah di Indiana. Finch mempunyai ketentuan dalam ekspedisi mereka, ialah: tidak memakai handphone buat bawa mereka ke situ, melainkan membaca denah serta wajib meninggalkan suatu di tempat yang didatangi. Tidak kurang ingat memilah posisi yang hendak didatangi dengan cara bergantian antara ide Finch, kemudian ide Violet.

Perihal yang kerap kali kita lupakan dikala kita berjalan merupakan kita senantiasa mau menyambut. Dalam perihal ini ekspedisi misalnya keelokan panorama alam serta atmosfer momen yang dilewati dikala berjalan. Hingga, di sinilah menurutku sesuatu buah pikiran yang bagus sekali dikala Finch menorehkan wajib pula meninggalkan suatu selaku ingatan.

Meski saya amat asing dengan tempat- tempat yang didatangi Violet serta Finch, pendeskripsian tempat oleh Pengarang lumayan membuatku turut kagum alhasil mau mendatangi tempat itu pula.

Berikutnya, saya ingin memberikan kutipan- kutipan yang kusukai dari Novel ini serta mangulas mengenainya;

POV( ujung penglihatan) Finch dikisahkan, terdapat kerutinan istimewa yang dicoba bunda Finch pada buah hatinya dikala di meja makan. Oh betul, saat sebelum itu butuh kuceritakan hal keluarga Finch. Finch memiliki 2 kerabat wanita, Kate yang cuma bertaut satu tahun lebih berumur darinya, serta Decca yang sedang berumur 8 tahun. Bapaknya meninggalkan mereka serta lebih memilah membuat keluarga kecil senang barunya. Tetapi, mereka sedang kerap bertamu ke rumah Bapaknya tiap seminggu sekali.

Nah, balik lagi ke kerutinan istimewa yang sesungguhnya biasa yang dicoba bunda Finch dikala lagi makan malam dengan buah hatinya merupakan beliau hendak senantiasa bertanya gimana rutinitas buah hatinya sepanjang di sekolah. Persoalan simpel, memanglah. Tetapi, lumayan melukiskan atmosfer keluarga– walau Finch berasumsi itu cuma salah satu strategi ibunya buat berupaya nampak telah melaksanakan kewajibannya selaku kedudukan bunda.

Serta buat awal kalinya, semacam yang dituliskan pada cuplikan di atas. Finch yang umumnya bila ditanyakan gimana keadaannya di sekolah, beliau hendak menanggapi biasa- biasa saja serta terkesan ogah- ogahan sebab tidak terdapat yang menarik. Tetapi, perkataannya itu yang walaupun tidak ibunya serta Decca paham, jadi pergantian terkini untuk mereka.

Serta cuplikan itu dapat melating dari bibir Finch, sebab ekspedisi yang terkini saja beliau habiskan bersama Violet dalam bagan kewajiban karyawisata Mr. Black.

Jika yang satu ini, betul- betul sanggup menohokku lebih keras. perkataan ini menyadarkanku, yeah, dalam hidup yang menyakitkan ini kita wajib dapat menyambut gimana keadaannya. Susah, tetapi sedemikian itu lah hidup.

Sayangnya, kehadiran sahabat Finch semacam Charlie Donahue serta Brenda Shank selaku kedua orang sahabat yang dituturkan merupakan sahabat dekat Finch keberadaannya tidak kerap dituturkan dalam narasi. Tetapi, kebalikannya pada POV( ujung penglihatan) Violet, sahabat semacam Amanda, Rayn, Roamer sekali juga lebih terasa keberadaannya.

Bentrokan penting mulai mencuat dikala Finch serta Violet tidak kembali semalam suntuk serta terkini kembali besok paginya. Sementara itu, yeah, mereka cuma menghabiskan malam di Tower Purina serta tertidur di situ. Memo, apalagi tidak terjalin apa – apa.

Sayangnya, keyakinan penuh yang telah diserahkan orang berumur Violet– yang berbohong rasa tanggung jawab serta kasih cinta, yang sesungguhnya terkesan sangat turut aduk hal buah hatinya tersebut– membuat Finch tercoret dari catatan keyakinan menitipkan Violet bersama Finch. Mereka kesimpulannya tidak diperbolehkan berjumpa serupa sekali.

Apalagi keadaannya hingga amat rancu. Orang berumur Violet bertamu orang berumur Finch. Yang menimbulkan hingga papa Finch pula turut turun tangan. Dikala Finch serta Violet hingga rumah tiap- tiap, kedua orang berumur mereka telah menunggu mereka.

Terjalin suatu perselisihan antara Finch dengan bapaknya. Terdapat era kemudian, dimana Finch hingga dikala ini mempunyai garis sisa cedera jauh di perutnya. Serta perihal itu diakibatkan oleh Finch kecil yang tidak dapat apa- apa mengalami bapaknya yang marah. Tidak hanya cedera raga yang membekas di badannya, terdapat cedera hati era kemudian yang diakibatkan bapaknya yang kesimpulannya sedang dibawa oleh Finch sampai saat ini.

Saya mengenalinya dengan gelar innerchild. Innerchild merupakan cedera era kecil– perasaan marah, marah, pilu, kekecewaan– yang sedang dibawa sampai berusia oleh seorang. Perihal itu dapat memunculkan tanpa siuman, bila perihal itu diakibatkan oleh orang berumur, kita hendak memusuhi orang berumur kita. Perasaan itu bawa akibat minus. Serta kurasa, itu lah yang terjalin pada Finch.

Ini pula ditafsirkan pada dikala dimana Finch dikisahkan amat penuh emosi, dikala beliau kecil sempat terdapat seekor burung yang lalu melanggarkan diri dengan mematuk- matuk paruhnya di patio rumahnya. Beliau memohon pada kedua orang tuanya supaya burung itu dibawa masuk ke rumah serta didiamkan dipelihara di rumah. Hendak namun kedua orang berumur Finch tidak memperbolehkan, sampai kesimpulannya naas burung itu mati. Finch merasa, perihal itu tidak wajib terjalin bila saja Finch bawa masuk burung itu. Apalagi hingga beliau beranjak bersandar di kursi tua sekolahnya saat ini, beliau sedang bawa benak penyanggahan kekecewaan era kemudian itu.

Balik lagi ke perselisihan Finch dengan bapaknya. Rasanya amat amat iba, ketat, saya sedang ingat perasaanku dikala membaca bagian itu. Air mataku gugur sedemikian itu saja. Saya merasakan, betul, memanglah kadangkala kali yang melukai kita sedemikan sakitnya merupakan orang terdekat kita sendiri. Di mari orang berumur, Papa Finch.

Bersinambung ke bentrokan selanjutnya, dikala Finch mulai tidak terdapat berita. Jadi, sepanjang tidak diperbolehkannya Finch serta Violet berkaitan lagi, mereka melanggarnya. Mereka apalagi lalu berjumpa di sekolah serta di luar sekolah. Tetapi, sesuatu hari Finch lenyap. Violet bertanya kehadiran Finch pada keluarga Finch. Ternyata kebingungan yang mencuat dari bentuk wajah keluarga Finch, mereka berkata Finch memanglah kerap begitu. Sangat beliau cuma lagi berlari ke sesuatu tempat serta tentu hendak kembali.

Finch kembali terus menjadi mempertimbangkan mau memberhentikan hidup. Beliau apalagi hingga mengutip pil- pil obat tidur kepunyaan ibunya serta menenggak semua botol itu. Tetapi, setelah itu beliau tersadar. Beliau lekas mengeluarkan apa yang beliau minum serta lekas berlari ke rumah sakit. Serta di mulai dari mari lah saya ketahui Finch menderita bipolar. Yup, terjawab telah kenapa Finch terobsesi pada kematian, beliau mempertimbangkan gimana metode beliau bunuh diri tiap harinya, apalagi mencatatnya.

Tidak terdapat yang ketahui peristiwa itu, dikala beliau dirawat sedangkan di rumah sakit. Kesimpulannya, Finch menciptakan suatu komunitas Life is Life. Life is Life ialah perkumpulan banyak orang yang merasa tekanan mental serta sempat berupaya buat memberhentikan hidup mereka yang bermaksud buat mencari pencerahan serta antusias hidup kembali. Di situlah beliau berjumpa tidak terencana dengan Amanda, sahabat Violet, orang yang pula kerap membulinya, berkata Theodore abnormal.

Lumayan memerangahkan terdapat Amanda di situ. Nyatanya Amanda menderita bulimia, ialah kemauan lalu makan tetapi mengeluarkan kembali isi makanannya. Sementara itu beliau Amanda. Amanda sang wanita terkenal, memiliki segalanya. Tetapi, sempat merasakan mau berupaya melaksanakan bunuh diri.

Di mari pengarang berikan catatan, orang sepopuler apapun dirimu, psikologis illness dapat melanda siapa saja. Apalagi Rayn, laki- laki terkenal yang pula mantan pacar Violet itu merupakan seseorang kleptomania. Kleptomania merupakan penyakit psikologis yang berencana mencuri beberapa barang kepunyaan orang lain, sekalipun benda itu tidak bermanfaat.

Hingga kesimpulannya Amanda mengadukan perihal itu pada Violet. Dikala Violet kesimpulannya berjumpa kembali dengan Finch, beliau akan bertanya perihal itu. Apa betul Finch berupaya bunuh diri. Tetapi, memandang Finch yang saat ini membuat Violet mau membiarkan perihal itu. Beliau senantiasa Finch yang Violet tahu. Memanglah kira- kira berlainan, Finch jadi menggemari lemarinya serta bermukim di situ. Membuat ruang rahasia, membuat kehidupan di dalam lemarinya.

Violet belingsatan. Terdapat yang abnormal dengan Finch. Violet mau menolong Finch. Hingga beliau juga memberitahukan mengenai Finch yang memerlukan bantuan pada kedua orang tuanya. Awal mulanya mereka marah, tidak dapat nyatanya buah hatinya sedang berkaitan dengan Finch. Tetapi, kesimpulannya orang berumur Violet berupaya menolong. Mereka bertamu bunda Finch serta menelepon psikiater buat Finch. Tetapi, usahanya nihil. Finch terus menjadi tidak dapat ditemui. Beliau lenyap, lagi.

Klimaksnya, ini hendak jadi spoiler, lumayan kuperingatkan buat kalian yang tidak menggemari spoiler, silakan skip bagian ini.

Sesuatu hari Kate tiba ke rumah Violet, bertanya apakah beliau ketahui dimana Finch terletak. Sebab umumnya tiap sabtu, Finch hendak mengirimi berikan mereka berita melalui catatan. Tetapi, kali ini terdapat yang abnormal dengan catatan yang dikirim Finch. Yang nyatanya sebagian menit dari catatan yang dikirim Finch pada keluarganya, beliau pula mengirimi Violet catatan abnormal. Seolah beliau hendak berangkat serta tidak kembali. Serta bukan cuma Violet serta keluarganya yang memperoleh catatan itu, Charlie, serta Brenda sahabat dekat Finch juga memperoleh catatan tiap- tiap.

Bunda Finch mengamanatkan pada Violet, bisa jadi Violet ketahui kemana Finch, buat mencarinya. Violet juga merambah kamar Finch serta mengitari isi kamar Finch. Kesimpulannya beliau merambah lemari, ruang rahasia Finch serta menciptakan sebagian post it yang ditempelkan di bilik dalam lemari dengan antrean kata- kata yang berbeda- beda. Beliau juga menata perkata itu jadi suatu perkataan. Betul! Finch pasti aja meninggalkan catatan.

Violet , beliau ketahui dimana Finch berangkat. Itu merupakan tempat yang sempat Finch serta Violet datangi selaku cetak biru kelasnya. Air merupakan tempat yang Finch gemari. Violet juga berangkat ke telaga, dimana beliau sempat ke situ bersama Finch. Telah sebagian kali beliau menyelam ke dasar, tetapi beliau tidak lumayan kokoh menahan nafas di dalam air sepanjang yang dapat dicoba Finch. Beliau juga kesimpulannya memohon dorongan, menelepon polisi.

Serta semacam yang telah kita dapat memprediksi gimana ini hendak selesai. Tak! Tak! Tak! Mengapa Finch kesimpulannya wajib tidak?! Beliau tewas. Polisi serta keluarga merumuskan kalau kepergiannya merupakan suatu musibah. Tetapi, Violet ketahui kalau itu merupakan aksi bunuh diri. Bisa jadi seluruh orang ketahui, cuma saja berupaya memudahkan kondisi. Betul, anda tidak hendak dihakimi bila anda tewas sebab musibah. Tetapi, kebalikannya. Bila kalian tewas sebab bunuh diri hendak senantiasa terdapat stigma di situ.

Catatan yang di informasikan pengarang sangat menohok batin pembaca. Pengarang sanggup menjabarkan narasi dengan arti serta catatan yang menyentil siapa juga yang membacanya. Saya luang membaca salah satu keterangan di suatu web goodreads serta salah satu pembaca itu membagikan suatu keterangan yang berkata kalau kalian tak wajib hadapi tekanan mental dahulu, terbuat kehabisan seorang yang bernilai terlebih dulu, kalian pula tak wajib berumur remaja- dewasa belia buat dapat memahami serta tertampar pula menggemari narasi ini. Yup, saya sepakat dengannya.

Meski kalian bukan banyak orang yang dituturkan di atas, pengarang kembali menyadarkan batin tiap orang buat hirau. Betul, kurasa hirau merupakan tutur yang pas buat melukiskan gimana ending narasi ini sepatutnya tidak terjalin. Bila saja, seluruh orang ingin hirau.

 Baca Juga : 5 Buku Terlaris di Kalangan Milenial

Pengarang pula membagikan catatan tersirat kalau buat tidak menyepelehkan orang lain. Teruji dari Finch kita berlatih, beliau memanglah nampak senantiasa berperan semau hatinya. Populer kira- kira anak jalanan dampak perkelahiannya dengan Roamer. Tetapi, banyak orang justru menjulukinya Theodore sang abnormal.

Sedemikian itu pula dikala Finch lenyap, tidak terdapat yang betul- betul hirau buat ingin ketahui, dimana beliau terletak. Tidak sahabatnya, tidak pula keluarganya. Mereka cuma yakin kalau Finch memanglah semacam itu. Menyepelehkan, menyangka Finch cuma abnormal.

Serta menyebalkannya lagi dikala Finch kesimpulannya tewas bumi, banyak orang yang kerap memanggilnya sang abnormal tiba seakan mereka turut merasa berduka cita. Ataupun bisa jadi memanglah mereka terkini siuman, jika aksi mereka kelewatan.

Novel ini baik amat sangat buat dibaca oleh siapapun. Berapa juga usiamu. Sebab tema psikologis illness memanglah jelas terdapatnya. Tema yang wajib diperoleh faktanya, bukan diteriaki kalian abnormal! Kalian edan! Enggak, psikologis illness itu jelas terdapatnya, betapa bagusnya jika kita lebih aware kepada seluruh orang. Seberapa bagus ataupun jeleknya seorang, mereka layak diperlakukan bagus. Sebab tiap orang memiliki angka juangnya tertentu dengan hidupnya. Kita tak sempat ketahui gimana hari- hari yang orang lain lalui. Menghormati serta hirau merupakan kunci.

Jadi, buat kalian yang telah membaca novel ini gimana tanggapannya? Oiya, suatu bonus novel ini telah dapat dibaca dengan cara sah di aplikasi Ipusnas loh.

Share this:

Review Buku Berjudul All The Bright Places